JEJAK SANG GURU 18
Keesokan paginya, Hasan terbangun dengan badan yang lebih segar. Rasa dingin di tubuhnya sudah hilang, dan perutnya tak lagi kembung. Ibunya tersenyum saat melihatnya bangun lebih awal dari biasanya.
"Sudah enakan?" tanya ibunya sambil menyiapkan sarapan.
Hasan mengangguk. "Alhamdulillah, sudah, Bu."
Setelah sarapan nasi dengan sayur lodeh dan ikan asin, Hasan mengenakan seragam madrasahnya—baju putih lengan panjang dengan celana hijau tua. Seperti biasa, ia tidak memakai sepatu, hanya sandal jepit yang nanti akan ia lepas begitu sampai di madrasah.
Di luar, Umar dan Jamal sudah menunggunya.
"Ayo, Hasan! Nanti terlambat!" seru Umar.
Hasan buru-buru berpamitan kepada orang tuanya dan berlari menyusul teman-temannya. Mereka berjalan menyusuri jalan tanah yang masih sedikit becek sisa hujan kemarin. Embun pagi masih menggantung di ujung daun ilalang, dan suara burung-burung kecil terdengar merdu di antara pepohonan.
Begitu sampai di madrasah, Hasan melihat beberapa temannya sudah berkumpul di halaman. Beberapa sedang menyapu, ada yang membawa ember berisi air untuk menyiram lantai teras yang masih berdebu.
Seperti biasa, sebelum masuk kelas, mereka harus berbaris untuk membaca doa bersama. Pak Ustaz, guru agama mereka, berdiri di depan, memperhatikan murid-muridnya dengan tatapan tegas namun penuh wibawa.
"Hasan, kemarin tidak masuk karena sakit, ya?" tanya Pak Ustaz setelah doa selesai.
Hasan mengangguk. "Iya, Ustaz. Masuk angin karena kehujanan."
Pak Ustaz tersenyum kecil. "Lain kali, kalau hujan deras, jangan terlalu lama main di luar. Kesehatan itu juga bagian dari amanah yang harus kita jaga."
Hasan menunduk sedikit malu, sementara teman-temannya menyengir di belakangnya.
Hari itu, pelajaran dimulai seperti biasa. Pak Ustaz mengajarkan tentang kisah Nabi Sulaiman, lalu dilanjutkan dengan pelajaran membaca Al-Qur'an. Hasan duduk dengan tenang, menyimak dengan saksama.
Meskipun hanya sehari absen, ia merasa sudah banyak hal yang ia lewatkan. Dan sekarang, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih berhati-hati agar tidak sakit lagi dan bisa selalu belajar bersama teman-temannya di madrasah.
---
Suatu sore setelah pulang dari madrasah, Hasan dan teman-temannya mendapat kabar bahwa Pak Ustaz sedang sakit. Kabar itu cepat menyebar di antara murid-murid, dan tanpa perlu banyak berpikir, mereka sepakat untuk menjenguk beliau bersama-sama.
"Kalau bukan karena Pak Ustaz, kita tidak akan bisa membaca Al-Qur’an dengan lancar," ujar Umar saat mereka berjalan menuju rumah Pak Ustaz yang terletak tidak jauh dari madrasah.
Rumah Pak Ustaz sederhana, berdinding kayu dengan halaman luas yang ditanami beberapa pohon pisang dan rambutan. Saat mereka tiba, istri Pak Ustaz menyambut dengan ramah.
"Silakan masuk, anak-anak. Pak Ustaz sedang beristirahat di dalam," katanya sambil tersenyum.
Hasan dan kawan-kawannya masuk dengan hati-hati. Mereka melihat Pak Ustaz berbaring di atas dipan, berselimut sarung, dengan wajah yang terlihat lelah namun tetap teduh seperti biasanya.
"Assalamu’alaikum, Ustaz," sapa Hasan mewakili teman-temannya.
Pak Ustaz membuka matanya dan tersenyum. "Wa’alaikumussalam. Wah, kalian ramai-ramai datang ke sini, ya?"
"Iya, Ustaz. Kami ingin menjenguk," jawab Asep.
Pak Ustaz mengangguk pelan. "Terima kasih, anak-anak. Kalian ini benar-benar murid yang baik. Ingat, ilmu itu bukan hanya tentang pelajaran di madrasah, tapi juga tentang adab dan kepedulian terhadap sesama."
Hasan dan teman-temannya mengangguk penuh semangat. Mereka kemudian duduk di lantai, mengobrol sebentar, lalu membacakan doa bersama agar Pak Ustaz segera sembuh.
Setelah selesai, mereka berpamitan. Sebelum pulang, Hasan memberanikan diri bertanya, "Ustaz, kalau nanti sudah sembuh, tetap ke sawah lagi seperti biasa?"
Pak Ustaz tertawa kecil. "Tentu saja, Hasan. Guru juga butuh bekerja di sawah agar bisa makan."
Anak-anak ikut tertawa, merasa lega melihat Pak Ustaz masih bisa bercanda meskipun sedang sakit. Dengan hati yang lebih tenang, mereka pun pulang, membawa harapan agar Pak Ustaz segera sehat dan kembali mengajar seperti biasa.
Comments
Post a Comment