JEJAK SANG GURU 9
Beberapa hari setelah insiden pertengkaran di lapangan kasti, suasana di madrasah kembali normal. Hasan dan Umar sudah kembali akrab, sementara teman-teman mereka pun tidak lagi membahas masalah itu. Namun, ada satu hal yang mulai membuat anak-anak gelisah—pohon mangga di kebun belakang madrasah sudah mulai berbuah.
Pohon mangga itu milik Pak Dulah, seorang petani yang rumahnya bersebelahan dengan madrasah. Setiap tahun, ketika musim mangga tiba, anak-anak selalu tergoda untuk mencicipinya. Buahnya besar-besar dan terlihat menggiurkan, menggantung rendah seolah menantang untuk dipetik.
Siang itu, setelah jam pelajaran berakhir, Hasan, Umar, dan Jamal duduk di bawah pohon rindang di pekarangan belakang madrasah. Dari tempat mereka duduk, pohon mangga itu terlihat jelas, dengan beberapa buah sudah menguning.
"Bagaimana kalau kita ambil satu saja?" bisik Jamal, matanya berbinar penuh semangat.
"Jangan, itu milik Pak Dulah," ujar Umar, mencoba bersikap bijak.
"Tapi lihat buahnya! Menggiurkan sekali!" Hasan ikut tergoda.
Setelah beberapa saat ragu, akhirnya mereka sepakat untuk mencoba mengambil satu mangga. Mereka berjalan mengendap-endap ke belakang madrasah, lalu mendekati pagar kebun.
Jamal, yang tubuhnya paling kecil, diminta naik ke pundak Umar untuk menjangkau buah mangga yang tergantung rendah. Dengan sedikit usaha, tangannya berhasil meraih salah satu buah yang sudah matang.
"Yes, dapat!" seru Jamal dengan gembira.
Namun, tepat saat itu, suara berat terdengar dari balik kebun.
"Kalian sedang apa di sana?"
Seketika mereka membeku. Pak Dulah berdiri dengan tangan di pinggang, matanya menatap tajam ke arah mereka.
Hasan langsung turun dari pagar, sementara Jamal buru-buru menyembunyikan mangga di balik bajunya. Umar yang biasanya lebih tenang pun tampak panik.
"Kalian mau mencuri mangga saya?" suara Pak Dulah terdengar lebih dalam, membuat mereka semakin gugup.
"Bukan, Pak... kami hanya ingin mencicipi sedikit," jawab Hasan dengan suara lirih.
Pak Dulah mendekat, lalu menatap mereka satu per satu. Setelah beberapa saat, bukannya marah, ia malah menghela napas dan tersenyum kecil.
"Kalau kalian mau, kenapa tidak minta baik-baik?" katanya. "Daripada sembunyi-sembunyi dan ketahuan seperti ini?"
Hasan, Umar, dan Jamal saling pandang. Mereka merasa malu.
"Maaf, Pak Dulah..." ujar Hasan pelan.
Pak Dulah mengangguk. "Saya tidak akan marah. Tapi lain kali, kalau ingin sesuatu, tanyalah dulu. Jangan mengambil tanpa izin, meskipun hanya satu buah."
Mereka bertiga mengangguk patuh.
Setelah itu, Pak Dulah memetik tiga mangga matang dari pohonnya dan menyerahkannya kepada mereka. "Nah, ini untuk kalian. Tapi ingat, belajar dulu yang rajin, baru boleh makan mangga."
Hasan dan teman-temannya menerima mangga itu dengan wajah berseri-seri. Mereka belajar sesuatu yang berharga hari itu—bahwa meminta dengan baik lebih mulia daripada mencuri diam-diam.
Saat berjalan pulang, Hasan berkata, "Untung saja Pak Dulah baik. Kalau tidak, kita bisa kena rotan!"
Mereka tertawa bersama, menikmati mangga yang manis sambil berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Comments
Post a Comment