JEJAK SANG GURU 8
Pagi itu, suasana madrasah lebih tenang dari biasanya. Setelah kejadian pertengkaran kemarin, Hasan dan Umar masih agak canggung satu sama lain, meski sudah berdamai. Namun, pagi ini, mereka harus menghadapi sesuatu yang lebih serius—pengawasan dari Ustad Mahfud.
Seperti biasa, sebelum pelajaran dimulai, Ustad Mahfud berdiri di depan kelas dengan ekspresi yang sulit ditebak.
"Sebelum kita mulai pelajaran, saya ingin bertanya," katanya dengan nada tenang. "Siapa di antara kalian yang kemarin bertengkar di lapangan kasti?"
Mendengar pertanyaan itu, Hasan dan Umar langsung saling pandang. Teman-teman mereka juga tampak gelisah.
"Jangan diam saja. Saya ingin kalian jujur," lanjut Ustad Mahfud.
Dengan sedikit ragu, Hasan akhirnya mengangkat tangan, disusul oleh Umar.
"Jadi kalian berdua," kata Ustad Mahfud sambil mengangguk pelan. "Ceritakan kepada saya, apa yang sebenarnya terjadi?"
Hasan menarik napas dalam, lalu mulai bercerita tentang bola kasti yang diperebutkan, dorongan Umar, dan bagaimana suasana menjadi panas. Umar juga menambahkan bagian versinya, mengakui bahwa dia ikut terbawa emosi.
Setelah mendengar semuanya, Ustad Mahfud menatap mereka dengan sorot mata yang tajam namun tetap lembut.
"Kalian tahu," katanya, "di zaman saya, anak-anak yang bertengkar tidak hanya dimarahi, tetapi juga dihukum untuk mengingat kesalahannya. Bukan karena guru tidak sayang, tetapi karena ingin mendidik."
Hasan dan Umar menelan ludah. Beberapa teman mereka juga mulai khawatir, takut jika ada hukuman berat yang menanti.
"Begini saja," lanjut Ustad Mahfud. "Sebagai hukuman, kalian berdua harus bekerja sama membersihkan halaman madrasah setelah pulang sekolah nanti. Kalian akan menyapu dan merapikan ranting-ranting yang berserakan."
Beberapa anak tampak lega. Mereka mengira hukuman akan lebih berat. Namun bagi Hasan dan Umar, ini tetap menjadi tugas yang cukup melelahkan.
"Dan satu hal lagi," tambah Ustad Mahfud, "jangan pernah biarkan emosi menguasai kalian. Seorang yang kuat bukanlah yang bisa menang dalam perkelahian, tapi yang bisa menahan amarahnya."
Hasan dan Umar mengangguk pelan. Mereka tahu bahwa Ustad Mahfud tidak sedang marah, tetapi justru sedang mengajarkan sesuatu yang lebih berharga—tentang disiplin, tanggung jawab, dan mengendalikan emosi.
Setelah pelajaran selesai, seperti yang diperintahkan, Hasan dan Umar mulai menyapu halaman madrasah. Awalnya mereka bekerja dalam diam, tetapi lama-kelamaan mereka mulai bercanda satu sama lain.
"Ini semua salahmu!" ujar Hasan sambil tertawa, mengibaskan sapunya ke arah Umar.
"Kalau begitu, lain kali kita bertengkar saja sekalian supaya madrasah tambah bersih!" balas Umar, ikut tertawa.
Jamal yang lewat ikut tertawa melihat mereka. "Lihat! Dua sahabat bertengkar, tapi akhirnya malah jadi akrab lagi."
Hasan dan Umar tertawa bersama. Mereka menyadari bahwa meskipun mereka sempat berselisih, persahabatan mereka tetap lebih kuat.
Hari itu, mereka belajar bahwa ketegasan seorang guru bukan untuk menghukum, melainkan untuk membentuk karakter dan kedisiplinan.
Comments
Post a Comment