JEJAK SANG GURU 13
Hari itu, langit cerah dengan awan putih yang menggantung rendah di atas pegunungan. Hasan baru saja pulang dari madrasah ketika ibunya memanggilnya dari dapur.
"Hasan, ke sini sebentar!"
Hasan melepas sandalnya dan masuk ke dalam rumah. Ibunya berdiri di dekat meja, memegang selembar kertas yang tampak sudah agak kusut.
"Ada apa, Bu?" tanyanya.
Ibu Hasan tersenyum sambil menyerahkan kertas itu. "Ini surat dari ayahmu."
Mata Hasan berbinar. Ayahnya, seorang pegawai negeri yang bekerja di kota, jarang pulang karena tugasnya. Hasan merindukannya, dan surat ini adalah kejutan yang menyenangkan.
Dengan hati-hati, ia membuka lipatan surat itu dan mulai membaca.
Untuk anakku, Hasan.
Anakku, bagaimana kabarmu? Ayah berharap kamu sehat dan tetap rajin belajar di madrasah. Ibumu bercerita bahwa kamu semakin pintar mengaji, dan itu membuat Ayah sangat bangga.
Ayah ingin kamu selalu menjadi anak yang jujur dan bertanggung jawab. Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain, seperti yang selalu diajarkan oleh Ustad Mahfud.
Ayah tahu kamu pasti merindukan Ayah, seperti Ayah juga merindukan kamu. InsyaAllah, dalam beberapa minggu lagi, Ayah akan pulang untuk beberapa hari. Kita akan pergi ke sawah bersama, dan Ayah akan mengajarimu cara menanam padi seperti dulu.
Tetaplah menjadi anak yang baik, Hasan. Jaga ibumu, dan jangan pernah takut untuk berbuat kebaikan.
Salam sayang, Ayah
Hasan membaca surat itu dengan perlahan, meresapi setiap kata. Ada rasa haru di hatinya.
"Ibu, kapan Ayah pulang?" tanyanya dengan penuh harap.
Ibunya tersenyum lembut. "Sebentar lagi, Nak. Kamu harus bersabar."
Hasan mengangguk. Hatinya terasa hangat. Ia merasa lebih bersemangat menjalani hari-harinya, karena ada sesuatu yang ia tunggu—kepulangan ayahnya.
Comments
Post a Comment