JEJAK SANG GURU 12

 Setelah melewati ujian yang menegangkan, Hasan dan teman-temannya merasa lebih bebas. Mereka kembali bermain seperti biasa, menikmati sore di sekitar desa.

Di belakang madrasah, tidak jauh dari kebun Pak Dulah, ada ladang tebu yang cukup luas. Ladang itu milik Pak Raji, seorang petani tua yang terkenal galak dan tidak segan-segan menegur siapa saja yang mengusili kebunnya.

Suatu sore, Hasan, Umar, dan Jamal duduk di bawah pohon sambil mengobrol. Mereka kehausan setelah berlarian bermain bola kasti. Hasan tiba-tiba melihat ladang tebu yang hijau subur itu dan mengelus perutnya.

"Seandainya kita bisa makan tebu sekarang, pasti segar sekali," gumamnya.

Umar menoleh ke ladang tebu. "Pak Raji tidak ada di sana. Mungkin kita bisa mengambil sedikit saja?"

Jamal mengangguk cepat. "Ya, satu batang saja, tidak akan merugikan."

Setelah memastikan keadaan aman, mereka bertiga berjalan mengendap-endap ke ladang tebu. Hasan menarik satu batang yang cukup besar, lalu dengan cepat mencabutnya. Mereka berlari kembali ke tempat semula dan mulai mengupas batang tebu dengan gigi mereka.

"Ssshh… jangan sampai ada yang tahu," kata Jamal sambil mengunyah batang tebu yang manis.

Namun, kesenangan mereka tidak berlangsung lama. Tiba-tiba terdengar suara berat dari belakang mereka.

"Hei! Kalian ngapain di sana?"

Mereka menoleh, dan di sana berdiri Pak Raji dengan wajah merah menahan marah.

Tanpa pikir panjang, Hasan dan teman-temannya langsung berlari secepat mungkin, melewati semak-semak dan jalan setapak di belakang madrasah. Namun, Pak Raji lebih cepat dari yang mereka duga. Dengan langkah panjangnya, ia berhasil mengejar mereka.

Hasan hampir saja melompat ke pekarangan rumah warga ketika kerah bajunya ditarik.

"Kena kau!" suara Pak Raji terdengar garang.

Jamal dan Umar yang melihat Hasan tertangkap langsung berhenti berlari. Mereka tahu, tidak ada gunanya lari lagi.

Pak Raji menatap mereka bertiga dengan tajam. "Kalian tahu ini perbuatan apa? Mencuri!"

Hasan menunduk, begitu pula Umar dan Jamal. Mereka tidak bisa membantah.

"Ayo ikut saya ke rumah!" bentak Pak Raji.

Mereka bertiga berjalan dengan kepala tertunduk, merasa seperti penjahat kecil yang tertangkap basah. Sesampainya di rumah Pak Raji, mereka disuruh duduk di bangku kayu di teras.

Tak lama kemudian, Ustad Mahfud datang. Rupanya, Pak Raji telah mengirim seseorang untuk memanggilnya.

Saat melihat Hasan dan teman-temannya duduk dengan wajah pucat, Ustad Mahfud hanya menghela napas.

"Pak Raji, saya yang akan menegur mereka," kata Ustad Mahfud dengan tenang.

Pak Raji mengangguk. "Baik, Ustad. Kalau mereka mengulangi lagi, saya tidak akan segan-segan memberi hukuman lebih keras!"

Setelah Pak Raji masuk ke dalam rumahnya, Ustad Mahfud menatap ketiga muridnya. "Kenapa kalian lakukan ini?"

Hasan menggigit bibirnya. "Kami hanya ingin makan tebu, Ustad..."

"Kenapa tidak minta baik-baik?" suara Ustad Mahfud tetap lembut, tapi penuh wibawa.

Umar dan Jamal tetap diam.

"Kalian harus ingat," lanjut Ustad Mahfud. "Sesuatu yang bukan milik kita tidak boleh diambil begitu saja. Ini bukan soal besar atau kecil, tapi soal kejujuran. Jika kalian terbiasa mengambil sesuatu tanpa izin, lama-lama kalian bisa terbiasa mencuri. Itu bukan akhlak yang baik."

Mereka bertiga semakin menunduk.

"Sebagai hukuman," kata Ustad Mahfud akhirnya, "besok pagi kalian harus menemui Pak Raji dan meminta maaf langsung. Kalian juga harus membantu beliau di ladang selama satu hari."

Mata Hasan membesar. "Seharian, Ustad?"

Ustad Mahfud mengangguk. "Itulah konsekuensinya."

Mereka bertiga tidak punya pilihan selain menerima hukuman itu.

Keesokan paginya, dengan wajah malu-malu, Hasan, Umar, dan Jamal menemui Pak Raji. Mereka meminta maaf dengan tulus, dan sebagai ganti kesalahan mereka, mereka bekerja di ladang tebu selama sehari penuh, membantu membersihkan rumput dan mengangkat batang tebu yang sudah dipanen.

Di sore hari, saat pekerjaan selesai, Pak Raji menepuk pundak mereka dengan senyum kecil. "Nah, sekarang kalian tahu rasanya bekerja di ladang. Kalau kalian ingin tebu, datang saja dan bantu saya dulu. Tidak perlu mencuri."

Hasan dan teman-temannya tersenyum lega. Mereka belajar sesuatu yang penting hari itu—kejujuran lebih berharga daripada kesenangan sesaat.

Comments

Popular posts from this blog

JEJAK SANG GURU 24

JEJAK SANG GURU 16

JEJAK SANG GURU 17