JEJAK SANG GURU 11

Hujan deras semalam membuat udara pagi di desa terasa lebih sejuk. Embun masih menempel di daun-daun ketika Hasan dan teman-temannya berjalan menuju madrasah. Mereka terlihat lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya, kecuali satu hal—hari ini adalah hari ujian.

Sejak tadi pagi, Hasan merasa sedikit gugup. Meski ia sudah belajar semalam, tetap saja perasaan tegang itu tidak bisa hilang. Umar yang berjalan di sebelahnya juga tampak cemberut.

"Kalau sampai dapat nilai jelek, habislah aku," gumam Umar. "Bapak pasti menyuruhku menghafal Al-Qur'an semalam suntuk."

Jamal tertawa kecil. "Memangnya itu hukuman? Itu malah bagus!"

"Bagus kalau sukarela, kalau terpaksa ya beda cerita," balas Umar sambil menghela napas.

Setibanya di madrasah, suasana sudah hening. Semua murid duduk dengan rapi di bangku masing-masing. Di depan kelas, Ustad Mahfud sudah berdiri dengan wajah serius.

"Anak-anak, hari ini kalian akan menghadapi ujian. Saya tidak mau ada yang mencontek atau bekerja sama. Ingat, Allah Maha Melihat," kata Ustad Mahfud sambil membagikan lembar soal.

Hasan menelan ludah. Ia menerima kertas ujiannya dan langsung membaca soal-soalnya. Beberapa terasa mudah, tapi ada juga yang membuatnya harus berpikir keras.

Di tengah keheningan kelas, tiba-tiba terdengar suara kertas berdesir. Hasan melirik ke samping dan melihat Jamal menggerakkan tangannya perlahan, berusaha menunjukkan jawabannya ke Umar.

Namun, sebelum Umar sempat melihat, Ustad Mahfud sudah mendekati mereka.

"Apa yang sedang kalian lakukan?" suaranya dalam dan tegas.

Jamal langsung membeku. Umar juga menunduk dalam diam.

"Ujian ini bukan sekadar tentang nilai," lanjut Ustad Mahfud. "Ini tentang kejujuran. Jika kalian lulus dengan mencontek, kalian sebenarnya tidak lulus di hadapan Allah."

Semua murid diam, mendengar kata-kata itu. Hasan merasa kagum sekaligus malu. Kagum karena Ustad Mahfud selalu bisa menasihati tanpa harus marah-marah, dan malu karena tadi ia juga sempat tergoda untuk melirik jawaban temannya.

Jamal akhirnya mengangguk pelan. "Maaf, Ustad. Saya tidak akan mengulanginya lagi."

Ustad Mahfud tersenyum tipis. "Bagus. Sekarang lanjutkan ujian kalian."

Setelah itu, kelas kembali hening. Hasan mengerjakan soal-soalnya dengan lebih tenang. Kali ini, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa apapun hasilnya, ia akan menerimanya dengan jujur.

Ketika bel berbunyi menandakan ujian selesai, Hasan menghela napas lega. Ia mungkin tidak bisa menjawab semua soal dengan sempurna, tapi setidaknya ia tahu bahwa ia telah berusaha dengan jujur.

Hari itu, Hasan dan teman-temannya belajar satu hal penting—bahwa nilai bukanlah segalanya. Kejujuran dan usaha yang sungguh-sungguh jauh lebih berharga.

Comments

Popular posts from this blog

JEJAK SANG GURU 24

JEJAK SANG GURU 16

JEJAK SANG GURU 17