Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Hasan bangun lebih pagi dari biasanya, membersihkan rumah, membantu ibunya menyiapkan sarapan, dan sesekali menengok ke jalanan desa yang masih basah sisa hujan semalam. "Jangan mondar-mandir terus, Hasan," tegur ibunya sambil tersenyum. "Ayahmu pasti datang, sabar sedikit." Hasan mengangguk, tapi hatinya sulit tenang. Ia sudah menghitung hari sejak menerima surat dari ayahnya. Dan sekarang, waktunya hampir tiba. Menjelang siang, suara deru kendaraan terdengar dari kejauhan. Hasan segera berlari ke luar rumah dan melihat sebuah angkutan desa bak terbuka mendekati ujung jalan. Di sana, di antara para penumpang yang duduk berdesakan dengan barang bawaan mereka, Hasan melihat sosok yang sudah lama ia rindukan. "Ayaaah!" Hasan melompat-lompat kegirangan. Ayahnya, seorang pria dengan tubuh tegap dan wajah yang selalu tampak ramah, turun dari kendaraan dengan membawa sebuah tas besar. Begitu ia melihat Hasan, senyum lebarnya ...
Comments
Post a Comment